Saat pulang dari PyCon ID 2025 di Jakarta, saya sempat mengobrol dengan teman saya.
Teman: “Datang jauh-jauh dapat hotel?”
Saya: “Nggak.”
Teman: “Transportasinya gimana?”
Saya: “Berangkat sendiri. Pulang sendiri.”
Teman: “Terus dapat apa?”
Saya: “Cari experience aja.”
Teman: “Rugi dong.”
Saya tertawa. Tapi setelah itu kepikiran juga.
Lah, iya. Benar juga ya.
Saya pergi dari Surabaya ke Jakarta, lalu kembali lagi. Ada waktu yang habis di perjalanan. Ada tenaga untuk menyiapkan materi, mengubah slide berkali-kali, dan latihan sebelum berangkat. Semua itu untuk akhirnya berdiri di depan sebuah ruangan dan membawakan materi yang saya siapkan.
Kalau ditanya hasilnya saat itu juga, saya memang tidak punya jawaban selain pengalaman.
Beberapa bulan sebelumnya, saya melihat pengumuman CFP (Call for Proposals), yaitu pendaftaran calon pembicara PyCon ID 2025.
Saya buka formulirnya. Saya baca. Saya tutup lagi.
Lalu saya buka lagi.
Saya pernah datang ke PyCon sebagai penonton. Kali ini saya ingin mencoba berdiri di sisi lain ruangan. Jadi saya kirim materi yang ingin saya bawakan, lalu menunggu.
Beberapa waktu kemudian, materinya diterima.
Artinya saya benar-benar harus berbicara di PyCon.
Setelah diterima, saya mulai menyiapkan materi untuk PyCon. Slide-nya masih belum selesai ketika salah satu pengurus Surabaya.py menghubungi saya dan menawarkan kesempatan untuk berbicara di meetup mereka.
“Mau ngisi meetup Surabaya.py?”
Acaranya berlangsung pada November, sebulan sebelum PyCon. Lokasinya dekat dari tempat saya tinggal. Saya tidak perlu memikirkan perjalanan jauh. Tinggal datang, bicara, lalu pulang.
Saya bilang iya.
Surabaya.py akhirnya menjadi tempat pertama saya berdiri sebagai pembicara.
Sebelum mulai, saya masih sibuk memikirkan kalimat pembuka. Kenalan dulu? Langsung masuk materi? Cerita sedikit? Semua versi terasa aneh ketika dilatih sendirian.
Begitu sudah berdiri di depan orang, saya mulai saja.
Ternyata selesai juga. Bahkan sesi tanya jawabnya lebih ramai dari yang saya bayangkan.
Sebulan kemudian, giliran Jakarta.
Kali ini perjalanannya lebih panjang. Saya harus meninggalkan rutinitas beberapa hari dan membawa semua yang diperlukan dari Surabaya.
Setelah selesai membawakan materi, saya kembali menjadi peserta. Acaranya tentu belum selesai. Masih ada pembicara lain yang materinya ingin saya dengarkan.
Di sela-sela acara, saya bertemu beberapa teman. Ada yang memang sudah lama saya kenal, ada juga yang sebelumnya hanya sesekali berinteraksi.
Saya cukup introvert. Kalau ada yang menyapa, respons saya kadang cuma senyum, lalu bingung harus melanjutkan obrolan dari mana. Senang bisa bertemu mereka, tapi energi saya pelan-pelan habis juga.
PyCon berlangsung dua hari, Sabtu dan Minggu. Rencana awalnya, saya ingin mengikuti acara sampai hari kedua.
Tapi setelah acara hari Sabtu selesai, rasanya saya ingin pulang saja. Capek. Akhirnya rencana itu berubah. Saya berangkat pulang malam itu, dan Minggu pagi sudah sampai di Surabaya lagi.
Tidak ada perubahan besar yang langsung terasa.
Ya sudah. Setidaknya sekarang saya pernah bicara di PyCon.
Sekitar satu minggu kemudian, seorang teman menawarkan saya mengajar Odoo fungsional di Nusacodes.
Saat itu saya memang sedang senang berbagi. Setelah Surabaya.py dan PyCon, berdiri untuk menjelaskan sesuatu kepada orang lain tidak lagi terasa sejauh sebelumnya.
Saya tidak punya rencana besar. Saya pikir ini akan menjadi kesempatan lain untuk berbagi hal yang sehari-hari saya kerjakan.
Jadi saya terima.
Batch pertama berjalan. Tidak terlalu mulus, tapi selesai.
Lalu ada batch kedua. Batch ketiga. Tanpa terasa, satu kelas berubah menjadi sembilan batch dan dua webinar.
Pesertanya datang dari berbagai latar belakang. Ada pemilik bisnis, admin operasional, staf purchasing, supervisor, sampai orang yang sedang belajar menjadi konsultan Odoo. Cara mereka melihat sistem tentu berbeda-beda. Pemilik bisnis lebih tertarik pada gambaran besarnya, sedangkan tim operasional biasanya membawa pertanyaan dari pekerjaan sehari-hari. Banyak juga yang awalnya belum pernah menggunakan Odoo, jadi saya belajar menjelaskan sistem yang rumit tanpa menganggap semua orang sudah memahami istilah teknisnya.
Di situlah tantangannya mulai terasa berbeda. Mengerti sebuah sistem ternyata tidak otomatis membuat saya bisa menjelaskannya. Saya harus mencari contoh yang dekat dengan pekerjaan peserta, mengubah urutan materi, dan memperbaiki cara menjelaskan dari satu batch ke batch berikutnya.
Beberapa peserta kemudian datang lagi untuk konsultasi. Dalam sesi seperti itu, saya tidak bisa hanya mengulang materi kelas. Saya harus lebih banyak mendengarkan, memahami masalah dari sudut pandang mereka, lalu membantu menguraikannya satu per satu.
Di situ saya belajar bahwa mengetahui jawaban dan membantu orang menemukan jawaban adalah dua hal yang berbeda. Kadang masalah yang terdengar teknis ternyata berawal dari proses yang belum jelas. Kadang saya juga harus jujur bilang belum tahu, lalu mencari tahu lagi.
Jalannya tidak lurus. PyCon tidak otomatis menghasilkan semua itu. Tidak ada rumus bahwa sekali menjadi pembicara, seminggu kemudian kesempatan baru akan datang.
Tapi dari dua acara itu, orang lain bisa melihat saya menjelaskan sesuatu yang saya pahami. Sebelumnya, kemampuan itu hanya ada di pekerjaan sehari-hari. Tidak banyak orang yang tahu. Setelah saya mulai berbagi, kemampuan yang sama jadi terlihat.
Mungkin memang itu yang saya bawa pulang dari Jakarta.
Bukan sesuatu yang bisa langsung saya tunjukkan ketika ditanya, “Dapat apa?”
Hanya keberanian untuk terlihat sedikit lebih jauh dari sebelumnya.
Pada 18 Oktober 2026, saya sudah selesai mengajar di Nusacodes.
Sembilan batch dan dua webinar rasanya cukup. Saya ingin belajar sesuatu yang lain.
Sekarang saya sedang belajar IELTS.
Untuk apa?
Belum tahu.
Mungkin nanti berguna untuk sesuatu. Mungkin juga mengantar saya ke tempat yang sekarang belum terpikirkan. Bisa juga tidak ke mana-mana.
Tapi sepertinya asoy.
Dulu saya juga tidak tahu perjalanan ke Jakarta itu akan membawa saya ke mana.