Kembali ke SMAN 1 Kedungadem sebagai alumni, bukan sebagai siswa berprestasi, tapi sebagai siswa biasa yang tidak punya pelajaran coding sama sekali waktu SMA. Saking malasnya, dulu saya pilih pulang sekolah langsung tidur. Tidak main ke mana-mana. Tidak ikut ekskul.
Awal ceritanya justru dari media sosial. Saya melihat konten kepala sekolah SMAN 1 Kedungadem yang membahas coding club di sekolah. Saya tertarik karena jarang ada kepala sekolah yang seaktif itu mendorong murid belajar coding. Dari situ kami mulai berkomunikasi. Beliau menanyakan latar belakang saya sebagai software engineer, saya kirimkan LinkedIn, dan akhirnya kami sepakat bertemu untuk mengisi podcast sekaligus acara di coding club.
Talk ini menceritakan perjalanan dari siswa yang “tidak nakal, tidak berprestasi, mudah terlupakan” di Bojonegoro, kuliah di Narotama, sampai dapat kerja pertama lewat LinkedIn di akhir semester 4 sebagai programmer di Surabaya. Dari situ karier terus berjalan, sempat merasakan kerja di Jakarta, sampai akhirnya sekarang bisa WFH dari Bojonegoro.
Buat saya, WFH bukan cuma soal kerja dari rumah. Ini bukti bahwa anak dari daerah pun bisa punya karier di dunia teknologi tanpa harus pindah ke kota besar, selama skill dan portofolionya nyata.
Sebenarnya alasan saya mau berbagi cerita ini sederhana. Saya ingin adik-adik di SMAN 1 Kedungadem tahu bahwa ada satu opsi lagi yang mungkin belum pernah mereka dengar, yaitu jadi software engineer. Bukan supaya semua orang jadi programmer. Bukan karena ini jalan terbaik. Ini cuma satu pintu tambahan.
Karena selama ini cita-cita yang ada sering itu-itu saja, yang kadang bukan datang dari anaknya, tapi dari harapan orang tua. Tidak apa-apa punya cita-cita seperti itu. Tapi tahu bahwa ada pilihan lain, buat saya itu penting. Biar mereka memilih dengan sadar, bukan karena tidak tahu ada opsi yang lain.
Kalau ada satu hal yang ingin saya titipkan, mungkin ini: latar belakang tidak menentukan seberapa jauh kamu bisa melangkah. Nilai rapor, nama kampus, atau dari mana kamu berasal, semua itu bukan batas. Yang lebih penting adalah kemauan untuk terus belajar, dan keberanian untuk mencoba jalan yang belum banyak ditempuh orang di sekitarmu.